SEKILAS TENTANG

GEREJA JAWA PURWOKERTO

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28 : 18 – 20)

  1. PENGANTAR

Dengan segala kuasa-Nya Tuhan Yesus Kristus mengatur dan menugasi umat-Nya untuk bersaksi dan memberitakan Injil Tuhan kepada semua bangsa, membaptis dan mengajarnya tentang tata hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia menyertai umat-Nya dalam hidup dan tugas bahkan akan menyertai sampai kepada akhir zaman.

Nats di atas menjadi salah satu titik tolak tersebarnya Injil Tuhan di seluruh dunia sampai saat ini dan menjadi titik tolak bagi tumbuh dan berkembangnya Jemaat Tuhan di mana-mana, termasuk juga di Indonesia pada umumnya dan di Purwokerto kota “Satria” yang kita cintai ini.

  1. SEKILAS PEMBERITAAN INJIL Tuhan DI WILAYAH BANYUMAS DAN SEKITARNYA.

  1. Di Banyumas

Di kota Banyumas, pemberitaan Injil Tuhan dilakukan oleh kaum awam yaitu oleh Ny. Van Oostrom Philips, seorang pengusaha batik di kota itu, pada tahun 1858. dari pemberitaan Injil Tuhan itu ada sembilan orang yang terpanggil dan kemudian menerima baptis suci pada tanggal 10 Oktober 1858 di Semarang. Mereka inilah merupakan “cikal-bakal” dari GKJ di kota Banyumas.

Pemberitaan Injil Tuhan secara resmi diizinkan di wilayah Karesidenan Banyumas tahun 1865.

  1. Di Purbalingga

Di Purbalingga, pemberitaan Injil Tuhan dimulai pada tahun 1862 oleh seorang guru bernama Leonard. Pada tanggal 5 Mei 1866 sebelas orang terpanggil dan menerima baptis suci yang dilayankan oleh Pendeta Vermeer dari Tegal. Seorang dari sebelas orang yang dibaptis itu adalah keturunan China bernama Khouw Tek San, yang kemudian beralih nama menjadi Paulus. Mereka inilah yang menjadi awal mula Jemaat GKJ Purbalingga.

  1. Di Purwokerto

Pemberitaan Injil Tuhan di Purwokerto dimulai dari desa Grendeng pada tahun 1885 yang dilakukan oleh seorang guru bernama Yosua Dangin. Orang-orang Kristen di Grendeng kala itu mengikuti kebaktian di Purbalingga. Karena jarak yang jauh maka mereka berangkat pada hari Sabtu menginap di Purbalingga dan pada pagi harinya mengikuti kebaktian.

Kelompok orang Kristen di Grendeng semakin bertambah, maka pada tahun 1915 ditempatkan seorang Guru Injil bernama M. Ngirat Asah dan pada bulan Agustus 1919 Pepanthan Grendeng ditetapkan menjadi Jemaat yang Dewasa. Sementara itu kelompok orang-orang Kristen di kota Purwokerto yang merupakan pepanthan dari Gereja Grendeng juga semakin berkembang. Salah seorang yang giat dalam memajukan Jemaat adalah R. Urip Simeon. Pada tanggal 3 Februari 1929 pepanthan Purwokerto ditetapkan menjadi jemaat yang dewasa. Tempat kebaktian di gedung Gereja yang terletak di Jl. Kauman Lama yang dibangun sekitar tahun 1926/1927 (sekarang gedung Gereja itu dipakai untuk TK/SD Kristen 02).

Jemaat Purwokerto semakin berkembang sementara jemaat di Grendeng semakin surut. Maka pada tahun 1936 jemaat Grendeng digabungkan ke Purwokerto, dengan demikian Grendeng menjadi pepanthan Jemaat Purwokerto.

III.   JEMAAT/GEREJA KRISTEN JAWA PURWOKERTO

  1. Pemanggilan Pendeta Yang Pertama

Setelah Jemaat Purwokerto dewasa (bermajelis sendiri) dan semakin berkembang maka tugas pelayananpun semakin bertambah pula. Maka jemaat memandang perlu untuk memanggil seorang Pendeta. Maka pada tahun 1938 jemaat Purwokerto memanggil Pendeta AR. Misael, yang telah memangku jabatan Pendeta di jemaat Cilacap. Beliau bersedia dan kemudian diteguhkan menjadi Pendeta di jemaat Purwokerto pada tanggal 14 Desember 1939.

  1. Pembangunan Gedung Gereja Baru

Di Purwokerto terdapat juga jemaat Belanda yang mengadakan kebaktian di Balai Pertemuan yang dibangun pada tahun 1934 di Ringweg (sekarang jalan Bhayangkara).

Jemaat (GKJ) Purwokerto yang menempati gedung gereja di Jl. Kauman Lama, bekerjasama dengan jemaat Belanda mendirikan sebuah gedung gereja yang lebih besar di Ringweg. Pembangunan itu dimulai pada tahun 1935 dengan jumlah biaya pembangunan 7.000 Gulden dipikul bersama jemaat (GKJ) Purwokerto dengan jemaat Belanda dengan perjanjian bahwa gedung gereja itu dipakai bersama. Pada tanggal 30 September 1937 gedung gereja baru itu diresmikan.

Jemaat (GKJ) Purwokerto terus berkembang dengan pasti. Pemberitaan Injil Tuhan terus berlangsung sampai tiba saatnya Pendeta AR. Misael memasuki masa emiritus (pensiun) pada tahun 1952. dan pada tahun itu juga jemaat memanggil Pendeta Soekarna Djajasoewita yang telah memangku jabatan Pendeta di jemaat (GKJ) Candisewu, Prambanan, Yogyakarta, untuk melayani jemaat (GKJ) Purwokerto, beliau bersedia. Maka pada tanggal 1 Juli 1952 beliau diteguhkan menjadi Pendeta jemaat (GKJ) Purwokerto.

  1. Pepanthan dan Blok

Di wilayah pelayanan Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purwokerto dibagi-bagi menjadi wilayah pelayanan pepanthan dan wilayah pelayanan blok.

Pepanthan (bahasa Jawa) adalah wilayah pelayanan yang telah ada tempat kebaktiannya sendiri tetapi belum dewasa yaitu belum mempunyai majelis gereja sendiri; masih menyatu dengan majelis gereja induk. Kebaktian diselenggarakan pada setiap hari Minggu.

Blok (dari bahasa Belanda) adalah wilayah pelayanan yang tidak ada tempat kebaktiannya (tidak ada pelayanan kebaktian di hari Minggu). Yang ada ialah pelayanan katekisasi, persekutuan doa, persekutuan pemahaman Alkitab, terutama untuk warga di blok yang bersangkutan.

Blok yang ada sekarang adalah : Kranji, Sokanegara, Purwosari-Sumampir,Bancarkembar-Grendeng, Kebondalem, Berkoh, Teluk, Karangklesem, dan Tanjung-Sawangan. Sedang pepanthan yang ada sekarang adalah: Karanggintung, Kradenan, Mersi, Jatilawang dan Gumelar.

Pendeta Soekarna Djajasoewita memasuki masa emiritus mulai tanggal 1 Januari 1976. kemudian jemaat memanggil Pendeta Widjojo Hadipranoto, Sm.Th. yang kala itu telah memangku jabatan Pendeta di GKJ Bantul Yogyakarta. Beliau bersedia dan diteguhkan menjadi Pendeta GKJ Purwokerto pada tanggal 20 Februari 1976.

  1. Pembiakan Jemaat.

Seiring dengan bertambahnya jumlah warga, pepanthan dan blok, maka perlu dipersiapkan pembiakan jemaat. Pepanthan Arcawinangun yang telah lama dipersiapkan dipandang  telah dapat didewasakan. Setelah melalui prosedur pendewasaan suatu pepanthan menjadi jemaat yang dewasa (mandiri) maka pada tanggal 1 Januari 1978 pepanthan Arcawinangun ditetapkan menjadi mandiri, bermajelis sendiri, menjadi Jemaat Dewasa.

Demikian pula seiring dengan makin meningkatnya tugas pelayanan, maka dirasa perlu untuk menambah tenaga seorang Pendeta lagi. Maka dipanggillah Saudara Bambang Pratomo, S.Th untuk dicalonkan menjadi Pendeta di GKJ Purwokerto. Setelah melalui proses sesuai dengan peraturan tentang pemanggilan dan pemilihan seorang Pendeta, dan melalui prosedur yang harus dilalui maka pada tanggal 17 September 1983 Saudara Bambang Pratomo, S.Th menjadi Pendeta di GKJ Purwokerto, dan melayani hanya kurang lebih lima tahun karena pada bulan Juni 1988 beliau dipanggil oleh jemaat GKJ Kiaracondong Bandung, Jawa Barat untuk melayani di jemaat itu dan bersedia.

Selama tiga tahun kemudian GKJ Purwokerto kembali hanya dilayani oleh seorang Pendeta yaitu Pendeta Widjojo Hadipranoto, BD. Oleh karena itu jemaat memanggil Saudara Drs. Daniel Agus Haryanto untuk menjadi calon Pendeta di GKJ Purwokerto. Setelah segala ketentuan tentang tata cara pemanggilan, pencalonan dan pemilihan dipenuhi Saudara Drs. Daniel Agus Haryanto terpilih dan dinyatakan layak tahbis dalam ujian calon Pendeta, maka pada tanggal 13 Juli 1991 ditahbiskan menjadi Pendeta di GKJ Purwokerto.

Sementara itu pepanthan Bantarsoka telah pula dipersiapkan untuk menjadi dewasa. Setelah lebih kurang dua tahun dipersiapkan maka pada tanggal 31 Oktober 1993 pepanthan Bantarsoka ditetapkan bermajelis sendiri, mejadi jemaat yang dewasa dengan nama GKJ Purwokerto Barat.

  1. Mendirikan Gedung Gereja dan Balai Pertemuan

Rumah ibadah (gedung gereja) lama yang dibangun tahun 1935 telah terasa menjadi sempit, lebih-lebih ketika dilayankan Perjamuan Kudus. Setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang, maka diputuskan untuk membuat gedung yang baru dan tidak menggangu bangunan gereja lama, karena pertimbangan bahwa bentuk bangunan gereja lama tidak boleh diubah-ubah.

Gagasan terakhir yang muncul dalam rapat Majelis Gereja pada tanggal 8 Maret 1990 membuat gedung berlantai dua. Lantai pertama (bawah) untuk Balai Pertemuan dan lantai kedua (atas) untuk menjadi tempat kebaktian. Sebuah bangunan yang besar dengan jumlah biaya yang besar pula. Maka pada tanggal 22 April 1991 dibongkarlah bangunan Balai Pertemuan lama yang didirikan pada tahun 1934 di tempat itu akan didirikan bangunan baru berlantai dua. Setelah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) turun, maka pada tanggal 24 Juni 1991 dilakukan peletakan batu pertama, sejak itu pembangunan terus berjalan meskipun lambat.

Pembangunan memang belum selesai seluruhnya, masih ada bagian yang belum selesai meskipun relatif kecil. Meskipun demikian lantai dua sejak Desember 1997 telah diuji coba untuk pelayanan kebaktian. Selanjutnya pada hari Rabu tanggal 3 Februari 1998 gedung baru berlantai dua dengan dua fungsi diresmikan penggunaannya oelh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas, Djoko Sudantoko, S.Sos.

Dari gagasan awal sampai gedung terwujud berdiri Pendeta Widjojo Hadipranoto, BD mempunyai peran yang sangat besar termasuk dalam mengusahakan perizinan dan mengadaan dana. Akan tetapi tidak ikut mengambil bagian dalam peresmian penggunaannya, karena Tuhan Allah Bapa telah memanggil pulang ke haribaan-Nya anak-Nya yang hiper aktif itu pada tanggal 12 Mei 1996 setelah dirawat beberapa waktu lamanya di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.

  1. Tugas Pengutusan

Salah seorang warga jemaat yang setelah menamatkan pendidikan di SPG Negeri Purwokerto dan kemudian melanjutkan ke Fakultas Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, adalah Saudara Ribut Karyono. Setelah menyelesaikan program S.1 di Perguruan Tinggi tersebut, lalu menyelesaikan program S.2 di Madras India. Selesai program S.2 Saudara Ribut Karyono, M.Th dicalonkan untuk menjadi dosen di fakultas Teologia UKDW. Oleh karena itu Saudara tersebut harus berjabatan Pendeta. Maka setelah melalui proses dan prosedur pemanggilan dan pencalonan serta pemilihan untuk Pendeta Pelayanan Khusus, maka Saudara Ribut Karyono, M.Th menempuh Ujian Calon Pendeta pada tanggal 25 Juni 1999 dan dinyatakan lulus dan layak tahbis. Pada tanggal 26 Agustus 1999 Saudara Ribut Karyono, M.Th ditahbiskan menjadi Pendeta di GKJ Purwokerto dan pada tanggal 2 September 2001 diadakan kebaktian pengutusan Pendeta Ribut Karyono, M.Th menjadi dosen Fakultas Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

  1. Menambah Tenaga Pendeta

Sepeninggal almarhum Bapak Pendeta Widjojo Hadipranoto, BD GKJ Purwokerto yang beranggota seribu orang lebih, selama tujuh tahun hanya dilayani oleh seorang Pendeta, yaitu Bapak Pendeta Drs. Daniel Agus Haryanto. Maka Majelis Gereja memandang perlu untuk menambah seorang Pendeta lagi.

Setelah mengalami dua kali kegagalan dalam usaha pemanggilan tenaga Pendeta yang dapat diharapkan melayani jemaat di GKJ Purwokerto, maka Majelis Gereja memulai lagi untuk yang ketiga kalinya. Maka pada tanggal 12 Juni 2001 dibentuk dan diangkatlah Panitia Pemanggilan Pendeta GKJ Purwokerto. Serta mengajak seluruh warga jemaat untuk mendukung dalam doa pada setiap kesempatan.

Sesuai dengan Tata Gereja GKJ, Panitia yang ditugasi untuk mencari bakal calon Pendeta dapat menjaring enam orang bakal calon. Setelah melalui seleksi pertama dan kedua maka dari enam bakal calon tinggal menjadi dua orang saja, Saudara Maria Puspitasari, S.Si dan Saudara Bowo Ariarso. Keduanya kemudian harus memasuki masa orientasi selama tiga bulan mulai tanggal 7 Juli sampai dengan 7 Oktober 2002.

Pada tanggal 27 Oktober 2002 diadakan pemilihan di semua tempat kebaktian baik di induk maupun di pepanthan.  Seluruh anggota jemaat yang berhak memilih, memilih seorang dari dua bakal calon Pendeta. Dari perhitungan jumlah suara maka Saudara Maria Puspitasari, S.Si memperoleh jumlah suara lebih banyak dari Saudara Bowo Ariarso. Maka Saudara Maria Puspitasari, S.Si lah yang terpilih untuk menjadi calon Pendeta di GKJ Purwokerto. Selanjutnya Saudara tersebut harus mengikuti masa pembimbingan calon Pendeta selama enam bulan mulai Januari sampai dengan Juni 2003, sebelum menempuh ujian calon Pendeta.

Pada tanggal 8 Juli 2003 Saudara Maria Puspitasari, S.Si menempuh ujian calon Pendeta dalam Sidang Klasis ke 64 Gereja – Gereja Kristen Jawa Klasis Banyumas Utara bertempat di GKJ Banjarnegara. Pada pada akhir ujian dinyatakan lulus dan layak untuk ditahbiskan menjadi Pendeta.

Pada hari ini, Senin 22 September 2003, Saudara Maria Puspitasari, S.Si ditahbiskan menjadi Pendeta GKJ Purwokerto dan menjadi Pendeta perempuan pertama baik di GKJ Purwokerto maupun di seluruh Klasis GKJ Banyumas Utara.

  1. PENUTUP

Demikianlah sekilas tentang Gereja Kristen Jawa Purwokerto yang diambil dari Sejarah GKJ Purwokerto yang masih terus dan sedang disusun.

Sehubungan dengan nama Gereja Kristen Jawa tidak berarti bahwa Gereja ini hanya khusus untuk orang Jawa, melainkan terbuka untuk semua bangsa di muka bumi ini. Nama Jawa karena semula untuk segala kegiatan dipergunakan bahasa Jawa, tetapi sekarang juga mempergunakan pengantar dalam bahasa Indonesia. Di GKJ Purwokerto (induk), kebaktian yang memakai pengantar bahasa Indonesia sebulan 12 kali sedang yang memakai pengantar bahasa Jawa sebulan hanya 4 kali. Bahasa Jawa sebagai ciri khas tetap dipertahankan juga sebagai upaya untuk melestarikan bahasa Jawa.

Perlu pula diketahui bahwa data yang dapat dihimpun pada akhir tahun 2002 jumlah warga GKJ Purwokerto sebagai berikut : Jumlah warga dewasa laki-laki 491 orang. jumlah warga dewasa perempuan 561 orang. jumlah anak laki-laki 209 orang. jumlah anak perempuan 237 orang. jumlah seluruh warga dewasa dan anak-anak 1498 orang.

Semoga risalah pendek ini berguna, dapat menambah pengetahuan kita tentang GKJ Purwokerto.

Purwokerto,    September 2003

Sutadi D.